Betapa Menakutkannya Potensi Gempa di Sesar Lembang

Ilustrasi Gempa Sesar Lembang

Patahan atau Sesar Lembang panjangnya 29 kilometer, dari wilayah Barat di Bandung Barat hingga sisi timur di Kabupaten Bandung. Kawasan Bandung utara dan selatan terbelah oleh patahan ini. Betapa menakutkannya potensi gempa di sesar Lembang sampai beberapa ahli memprediksi patahan ini berpotensi memicu “kiamat kecil”.

Salah satu persoalan ialah, masyarakat tidak tahu kalau wilayah yang mereka tempati di area Sesar Lembang. Menyimpan potensi menjadi sumber bencana. Setelah beberapa kali gempa kecil menimpa wilayah Cisarua dan sekitarnya, barulah tersadar akan sebuah potensi bahaya di tempat mereka tinggal.

Belum lagi saat ini ada pembangunan waterboom yang sedang dilangsungkan.

Potensi Gempa di Sesar Lembang

Patahan adalah retakan pada lempeng kerak bumi yang bergeser. Kehadiran patahan di suatu wilayah bisa menimbulkan gempa di suatu waktu. Kerak bergerser karena terapung di atas mantel bumi, lapisan ini bergerak secara perlahan hingga terpecah-pecah dan bertabrakan.

Hasil kajian Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI membenarkan akan temuan panjang sesar Lembang yang sebenarnya, yaitu 29 kilometer, bukan 22 kilometer seperti informasi yang sempat beredar.

“Jika segmen sepanjang 29 kilometer ini bergerak serempak, kekuatannya berkisar 6,5 – 7 skala richter,” ujar Dr. Mudrik Rahmawan Daryono, peneliti Geotekonologi LIPI, dikutip dari Tirto.

Kalau ini terjadi, angka tadi diprediksi bisa merusak seluruh wilayah Bandung, bahkan bisa meluas sampai Soreang atau Banjaran, yang berjarak 30 kilometer dari Lembang.

Kerusakan Apa yang Bisa Ditimbulkan?

Sesar Lembang memiliki panjang 29 kilometer dari Bandung Barat hingga Kabupaten Bandung. Wilayah yang dilintasinya termasuk Kecamatan Ngamprah, Cisarua, Parongpong, hingga Lembang. Di wilayah tersebut, total ada sekitar 500 ribu penduduk.

Naasnya, jalur patahan yang seharusnya steril dari bangunan atau pemukiman penduduk tidak dilakukan. Banyak pemukiman, perumahan, dan bangunan-bangunan yang berdiri di atas patahan ini.

Berdasarkan penelitian Geoteknologi LIPI, kalau patahan Lembang terjadi retakan, akan ada pergeseran vertikal sekitar 50 cm. Itu artinya, kalau sebuah rumah berada di jalur retakan, maka rumah tersebut akan naik sekitar 50 cm ketika gempa terjadi. Itu akan membuat konstruksi bangunan tidak stabil, terbelah, bahkan ambruk.

Kajian dari ITB memprediksi, jika sesar Lembang bergerak, dengan segala kerusakan yang mungkin akan muncul. Kerugian ekonomi dari kerusakan bangunan bisa mencapai Rp51 triliun. Angka ini bahkan lebih besar ketimbang kerugian gempa dan tsunami Aceh 2004 yang disebut berkisar di angka Rp48,6 triliun.

Hasil hitungan kasar akan ada sekitar 2,5 juta rumah warga yang terkena dampak gempa, dengan 1 juta unik rusak kecil, 1 juta rusak sedang, dan 500 ribu lainnya rusak total alias ambruk.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy link
Powered by Social Snap